Pelayanan Dengan Penuh Bertanggungjawab
Pelayanan
Dengan Penuh Bertanggungjawab
Seperti halnya yang dinyatakan
oleh Ellis, bahwa:
Kita mempercayai Tuhan Yesus Kristus, kita
wajib mematuhi semua perintah-Nya. Perintah Misi ini dikeluarkan denga kewibawaan
penuh dan kekuasaan Ilahi. Tuhan Yesus mengatakan bahwa, segala kuasa ada di tangan-Nya.
Mengabarkan Injil adalah bagian dari tanggung jawab melayani Kristus. Mengasihi
sesama manusia seperti diri sendiri berarti juga menyampaikan Injil kepada
mereka. Mengabarkan Injil berarti memuliakan nama Tuhan. Mengabarkan Injil mendampakkan
harta kekal di surga. Kesempatan mengabarkan Injil sangatlah terbatas, maka marilah
kita memanfaatkan kesempatan yang terbatas ini.[1]
Sedangkan menurut Kuyper, menyatakan bahwa “perkabaran
Injil itu perlu dilaksanakan dengan penuh bertanggungjawab. Gereja dan orang-orang
Kristen juga perlu mencari tahu sumber dan tujuan pekabaran Injil guna menghindari
diri dari berbagai salah paham supaya pelayanannya yang harus bersifat bertanggungjawab.
Harus digunakan dengan beberapa cara dan metode penginjilan, agar dapat bertangungjawab
dalam pelayanan”.[2]
Richardson,
menyatakan bahwa,
Apabila
memiliki kerinduan untuk pelayanan yang sukses dan bertanggungjawab harus memiliki
persahabatan yang akrab dalam penginjilan kabar baik paling baik ketika kita
menjadi seorang sahabat rohani. Persahabatan bukan sekedar menjadi langkah-langkah
penginjilan tetapi bagaimana kita menciptakan persahabatan yang tulus sehingga Injil
bisa disaksikan dan diberitakan secara natural melalui proses berelasi tersebut
dengan penuh bertanggungjawab. Ric juga memaparkan lebih jauh mengenai bagaimana
kita memahami dan mengikuti cara-cara Yesus, itulah keunikan dari pemaparan Ric
bahwa Yesus dapat diberitakan dengan cara-cara yang mengejutkan dan mengguncang
pemikiran orang-orang non-Kristen. Selain itu, ia mengenalkan Injil yang utuh dalam
perspektif baru bahwa Injil bercerita bukan hanya keselamatan pribadi saja,
namun Injil juga bercerita mengenai kepedulian Allah akan seluruh isi dunia ini
dan kehadiran kerajaan Allah akan membawa transformasi bagi individu, lingkungan
sosial, alam, dan seluruh isi dunia.[3]
Dengan demikian maka, seorang
pemberita Injil Kristus harus bertanggunjawab dalam hal kebutuhan rohani dan
jasmani kepada orang-orang yang dilayaninya. Lebih penting adalah dia harus
mampu membuat kenyamanan kepada sesama tim pelayanan maupun kepada jemaat yang
dilayaninnya. Peneliti dan tim misi PUFST, telah dan sedang berusaha untuk bertanggungjawab
dalam hal memberitakan firman Tuhan. Kerinduan peneliti dan tim misi PUFST, kedepannya
akan lebih dioptimalkan dalam pelayanan penginjilan, kabar tentang pengampunan
dosa dan kabar tentang keselamatan kepada orang-orang di suku Ketengban. Bertanggungjawab
yang dimaksud oleh peneliti adalah mengontrol dengan baik dan benar kepada sesama
pelayan Tuhan maupun kepada orang-orang yang sudah dilayani, supaya mereka tetap
dibawa pengawasan dari tim misi PUFST, dengan tujuan dapat terkontrol dengan
baik, tepat dan benar supaya iman mereka tetap teguh di dalam iman kepada Tuhan
Yesus Kristus.
[3]Rick Richardson, Reimagining Evangelism
(Merombak Citra Penginjilan), (Surabaya: Pekantas, 2010),
20.
Komentar
Posting Komentar