Pelayanan Dengan Mengenal Dan Memahami Medan (Jarak)


Pelayanan Dengan Mengenal Dan Memahami Medan (Jarak)

Seorang penginjil yang sukses harus berusaha untuk mengenal dan memahami medan (jarak) bahkan situasi dan kondisi di mana ia melakukan pelayanan. Sama halnya dengan peneliti dan tim misi PUFST, dalam melakukan pelayanan penginjilan kepada orang-orang yang ada di suku Ketengban, harus mengenal dan memahami terlebih dahulu sebelum melakukan pelayanan penginjilan kepada orang-orang yang ada di sana.  Supaya dapat memberitakan firman Tuhan dari daerah yang satu pindah ke daerah yang lain dengan tanpa ada kendala apa pun.

Menurut Larosa, menyatakan bahwa,

Kita harus memahami suatu medan, jarak di mana tempat pelayanan Penginjilan. Karena warga setempat sangat bergantung kepada alam, gunung-gunung, bukit-bukit lembah-lembah hutan-hutan dan lain-lain, agar pelayanan para pemberita Injil dapat menaklukkan dalam medan yang sangat membahayakan tersebut. Selain alam yang dipandang berbahaya itu, dapat juga dimanfaatkan oleh manusia. Karena alam dan manusia dipandang sebagai dua subjek yang saling mempengaruhi. Maka seorang pemberita Injil harus memahami dengan baik, medan atau kondisi di mana ia sedang memberitakan firman Tuhan.[1]

Sedangkan menurut Edmund menyatakan bahwa “salah satu yang menjadi kendala atau hambatan dalam misi penginjilan firman Tuhan atau kabar kerajaan Allah adalah jarak atau medan di tempat dilakukannya pelayanan”.[2]

Menurut Ellis, menyatakan bahwa “dalam suatu pelayanan tidak terlepas dari tempat, dan setiap tempat memiliki jarak yang berbeda-beda, mau mengunjungi tempat pelayanan seorang pelayan Tuhan harus mengetahui medan yang akan ditempuh, kalau ia belum mengenal medan harus cari tahu untuk mengetahuinya, harus minta peta dahulu kepada yang sudah mengetahui tempat sebelumnya”.[3]

Charson, menyatakan bahwa “penginjilan sudah menjadi suatu bagian yang harus dilakukan oleh setiap orang percaya di dunia ini, dan erat hubungannya dengan kehidupan gereja di sepanjang zaman, karena penginjilan adalah perintah Tuhan Yesus yang harus dilakukan oleh setiap orang percaya Matius 28:16-20, seorang pengijil harus memahami daerah yang dilayaninya”.[4]

Peneliti menyadari bahwa, jarak atau medan ditempat penginjilan menjadi kendala bagi tim misi PUFST di suku Ketengban. Sebab hanya bisa menempuh perjalanan dengan berjalan kaki dari kampung yang satu ke kampung yang lain. Naik gunung yang tinggi, rata-rata empat ratus sampai dengan empat ribu meter dari permukaan laut, membuat para pejalan kaki sangat lelah, letih dan tidak mampu untuk melanjutkan perjalanan. Sungai-sungai di sepanjang perjalanan dari kampung yang satu ke kampung yang lain sangat besar arus derasnya air yang sangat kuat atau kencang, tidak sedikit warga setempat yang hanyut oleh karena derasnya sungai-sungai yang ada di suku Ketengban. Belum ada jembatan yang permanen, namun selama ini warga setempat membuat jembatan kayu diikat dengan tali rotan.

Perjalanan yang melintasi hutan raya, jauh dari pemukiman warga dengan memakan waktu sekitar lima belas jam dalam menempuh suatu perjalanan. Keluar dari kampung yang satu menuju ke kampung yang lain untuk memberitakan firman Tuhan, dari jam emapt subuh atau pagi sampai dengan tiba di kampung yang lainnya sekitar jam enam di sore hari. Dengan jarak yang demikian membuat peneliti dan tim misi PUFST, sangat sulit untuk memberitakan firman Tuhan kepada orang-orang di suku Ketengban.


[1]Arliyanus Larosa, Misi Sosial Gereja, (Bandung: YKBK, 2001), 84-85.
[2]Edmund Woga CSsR, Dasar-Dasar Misiologi, (Yogyakarta: Kanasius), 57.
[3]D. W. Ellis, Op. Cit., 128-129.
[4]D. A. Charson, Doktrin Yang Sulit Mengenai Kasih Allah, (Surabaya: Momentum, 2010), 18.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TEMA-TEMA DALAM KITAB PL

Metode Penjangkauan Jiwa

Metode Penginjilan Yang Relevan di Suku Ketengban, Papua