Pelayanan Dengan Mengajarkan Garis Besar Alkitab Kejadian sampai Wahyu Dengan Bahasa Setempat


  Pelayanan Dengan Mengajarkan Garis Besar Alkitab Kejadian sampai Wahyu Dengan Bahasa Setempat

Menurut Simamora, menyatakan bahwa “salah satu tujuan misi adalah memahami sebuah bahasa di suatu tempat agar mampu dan dapat merealisasi. Karena misi tidak hanya dikerjakan oleh seorang saja, namun harus ada dukungan dari warga setempat yang memahami bahasa daerah agar memudahkan untuk berkomunikasi”.[1]

Sedangkan menurut Robert, menyatakan bahwa “terdapat permasahan lain yang sering timbul bagi para penginjil dalam melakukan penginjilan adalah kurangnya mengerti bahasa di suatu daerah tertentu. Seharusnya setiap usaha penginjilan yang dilakukan harus dengan dua ukuran: Pertama, harus memahami bahasa daerah setempat; kedua, mengadakan penginjilan dengan bahasa setempat. Kedua hal ini saling berhubungan, dan keserasian hubungan keduanya akan menentukan makna segala kegiatan yang dilakukan”.[2]

Menurut Hadiyono menyatakan bahwa,
Kristen merupakan agama para pengikut Yesus dari Nazaret yang mempercayai bahwa Yesus adalah sang Kristus, yang dituliskan kisah hidup-Nya di dalam Alkitab yang harus dipelajari oleh semua suku, bangsa, bahasa sesuai dengan cerita Alkitab dalam bahasa setempat. Dan juga merupakan salah satu agama dunia terbesar lainnya serta luas wilayah penyebarannya. Agama Kristen menyatakan diri sebagai sebuah agama dengan seruan semesta kepada seluruh umat manusia, jalan kepada manusia menuju keselamatan adalah melalui iman kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Hingga saat ini agama Kristen adalah agama yang terbanyak pengikutnya di dunia. Maka harus diterjemahkan Alkitab ke dalam berbagai bahasa yang berbeda agar mereka mudah untuk dipahami dan dimengerti mengenai Tuhan Yesus.[3]

Thompson menyatakan bahwa, “Kejadian adalah Kitab tentang awal dari segala sesuatu dan Kitab Wahyu adalah nubuatan tentang akhir dari segala sesuatu yang diciptakan oleh Allah yang diceritakan dalam Kitab Kejadian”.[4]
Peneliti dan tim misi PUFST, menyadari bahwa bahasa yang digunakan sehari-hari oleh warga setempat untuk berinteraksi sulit untuk dimengerti atau dipahami. Oleh sebab itu, suatu program baru yang akan dilakukan oleh tim misi PUFST, dalam melakukan pelayanan penginjilan adalah belajar bahasa daerah setempat untuk membuat suatu materi yang menjelaskan mengenai garis besar Alkitab dari Kejadian sampai dengan Wahyu, supaya orang-orang yang ada di suku Ketengban dapat memahami pemberitaan firman Tuhan dengan mudah.
Selain itu peneliti dan tim misi PUFST, akan mengajarkan kepada orang-orang yang ada di suku Ketengban untuk mengenal abjad, yaitu: cara membaca, cara menulis dan cara menghitung, serta mengajarkan untuk berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Indonesia. Ini adalah tugas dan tanggungjawab peneliti dan tim misi PUFST, untuk mengajarkan mereka agar bisa mengenal abjad, serta bisa berbahasa Indonesia.
Supaya warga setempat bisa membaca firman Tuhan dengan sendirinya. Karena selama ini, peneliti dan tim misi PUFST, melayani mereka dengan mengandalkan pendengaran mereka. Orang-orang yang ada di suku Ketengban belum bisa membaca Alkitab, karena mereka tidak mengenal abjad (buta huruf). Maka diperlukan untuk mengajarkan mereka isi Alkitab secara lisan dengan garis besar dari awal kitab sampai akhir kitab, agar dapat mendengarkan dengan baik, tepat dan benar, sesuai yang dikehendaki oleh Tuhan.


[1]Ranto G. Simamora, Misi Kemanusiaan dan Globalisasi, (Bandung: Ink Media, 2006), 130-131.
[2]E. Coleman Robert, Rencana Agung Penginjilan, (Bandung: Yayasan Kalam Hidup, 1996), 12.
[3]Harun Hadiyono, Iman Kristen, (Jakarta: PT. BPK Gunung Mulia, 1992), 320.
[4]Frank Charles Thompson, The New Chain Reference Bible, (Britania Raya: Kirkbride Bible Co., Inc, 1934), 422.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TEMA-TEMA DALAM KITAB PL

Metode Penjangkauan Jiwa

Metode Penginjilan Yang Relevan di Suku Ketengban, Papua