Pelayanan Dengan Mengajarkan Cara Membaca Menulis Dan menghitung
Pelayanan
Dengan Mengajarkan Cara Membaca Menulis Dan menghitung
Peneliti memiliki kerinduan
hati untuk mengajarkan abjad: cara membaca, menulis, menghitung serta mengajari
untuk berbahasa Indonesia kepada orang-orang yang ada di suku Ketengban, dengan
tujuannya adalah supaya masyarakat setempat bisa membaca Alkitab dengan sendiri,
serta merenungkannya untuk itulah harus diajarkan berbahasa Indonesia serta cara
membaca dan cara menulis kepada warga yang ada di sana.
Seperti halnya yang dinyatakan
oleh Verwer bahwa,
Semua
penginjilan dengan bacaan atau galibnya, semua penginjilan harus pertama-tama dipusatkan kepada mempersembahkan
Injil Yesus Kristus kepada orang-orang yang terhilang baik pria maupun wanita.
Tindakan kedua adalah membawa orang-orang
ini kepada percaya dan menerima Tuhan Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat
pribadi. Dan ketiga ialah mendirikan
kelompok setempat orang-orang beriman yang dikenal sebagai “Sidang atau Gereja”.
Itulah sebabnya perlu bahwa dalam setiap penginjilan kita harus selalu ingat
akan tujuan utama ini dan supaya kita berusaha sekuat tenaga menjadikan ini, suatu
kenyataan ini sehingga penginjilan kita dengan bacaan jangan hanya bagaikan kilat
di malam gelap saja. Ini berarti bahwa, setiap program penginjilan diharuskan untuk
jemaat bisa membaca Alkitab dan buku-buku bacaan.[1]
Sedangkan Purwantara, menyatakan
bahwa “ada tips untuk menghadapi orang-orang yang dilayani adalah pertama, hadapi dan ajarkan mereka untuk
membaca, menulis sesuai dengan kesiapan mereka. Kedua, pahami keadaan mereka dan cara pandang mereka terhadap cara
memabaca, menulis dan menghitung. Ketiga,
dorong mereka untuk memahami tujuan membaca, menulis dan menghitung”.[2]
Tong juga menjelaskan
bahwa,
Barangsiapa
pernah melakukan penginjilan kepada jiwa-jiwa yang memerlukan Injil, tenntu tidak
terlepas dari buku-buku bacaan, renungan Kristen, maka betapa pentingnya untuk
mereka mengenali abjad. Segala konsep, segala hambatan, kebudayaan, segala batasan,
agama, tidak akan menghentikan mereka dari keberanian menginjili dengan literatur.
Kuasa Roh Kudus ada pada mereka, akan memenuhi mereka sehingga mereka berani
menghadapi segala kesulitan di dalam penginjilan literatur. Penginjilan atau memberitakan
Injil Kristus bukan saja harus dijalankan oleh gereja secara kolektif, melainkan
juga harus dilakukan oleh setiap orang percaya secara pribadi masing-masing dengan
diajak membaca buku-buku dan Alkitab. Hati yang mengasihi jiwa-jiwa yang belum
mendengar Injil dan yang belum mengenal Yesus Kristus, adalah unsur yang sangat
penting dalam melaksanakan penginjilan.[3]
[2]Iswara Rintis Purwantara, Prapenginjilan Menyingkirkan Kendala-kendala
Intelektual dalam Penginjilan, (Yogyakarta: Andi Offset, 2012), 259.
Komentar
Posting Komentar