Pelayanan Dengan Kontesktual Papan (Rumah)


 Pelayanan Dengan Kontesktual Papan (Rumah)

Menurut Soekanto, menyatakan bahwa “hal yang paling menjolok dalam sosial manusia adalah papan (Rumah) sebagai sesuatu yang sangat penting dalam kehidupan sosial masyarakat. Masyarakat harus memiliki rumah sebagai suatu wadah untuk memenuhi kepentingan dalam bermasyarakat untuk dapat hidup bertahan disuatu tempat tersebut”.[1]

Sedangkan Scott, menyatakan bahwa “ada sejumlah dalam kehidupan manusia di dalamsuatu kehidupan manusia, harus memiliki keterampilan hidup dalam kehidupan bermasyarakat, dapat membangun rumah untuk tempat mendiami setiap manusia. Sebab semua manusia di dunia harus dan ingin memiliki tempat tinggal yang permanen dalam hal ini adalah rumah”.[2]

Wulansari, menyatakan bahwa “kelompok adalah himpunan atau kesatuan manusia yang terdiri dari dua atau lebih individu yang hidup bersama saling berhubungan, saling mempengaruih dengan suatu kesadaran untuk saling tolong menolong setiap anggota kelompok harus saling memiliki, hubungan timbal balik antara anggota yang satu dengan yang lain, memiliki rumah atau tempat tinggal yang jelas”.[3]

Peneliti dan tim misi PUFST, menyesuaikan diri dengan tempat tinggal (rumah) dengan orang-orang yang ada di suku Ketengban. Seorang pelayan Tuhan, harus bisa menyesuaikan diri dalam segala hal dengan orang-orang yang dilayaninya. Peneliti dan tim misi PUFST, sudah berusaha untuk menyesuaikan diri dan memberitakan firman Tuhan. Kerinduan peneliti kedepannya adalah supaya lebih dioptimalkan dalam pelayanan penginjilan kepada orang-orang di suku Ketengban. Menyesuaikan diri dalam hal makanan, minuman, tempat tinggal dan lain-lain. Dengan tujuan firman Tuhan dapat tersampaikan dengan baik, supaya imanya teguh di dalam Yesus Kristus yang adalah Tuhan dan Juruselamat.



[1]Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar, (Jakarta: Rajagrafindo Persada, 2012), 23.
[2]John Scott, Sosiologi The Key Concept, (Jakarta: Rajagrafindo Persada, 2011), 261.
[3]Dewi Wulansari, Sosiologi Konsep dan Teori, (Bandung: Refika Aditama, 2013), 43-44.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TEMA-TEMA DALAM KITAB PL

Metode Penjangkauan Jiwa

Metode Penginjilan Yang Relevan di Suku Ketengban, Papua