Pelayanan Dengan Kontekstual Interpersonal


Pelayanan Dengan Kontekstual Interpersonal

Hidup berbaur dengan orang-orang yang ada ada di suku Ketengban untuk belajar menyesuaikan diri dengan iklim agar terbiasa untuk melakukan pelayanan penginjilan di daerah tersebut, baik di dataran tinggi maupun ke dataran rendah atau dari daerah yang suhunya dingin ke daerah yang suhunya panas.
Seperti yang dinyatakan oleh Hesselgrave bahwa,
Yang menjadi masalah utama dalam pelayanan MISI kepada orang-orang yang terabaikan adalah karena kurangnya berkontekstualisasi atau kurangnya memahami kultur, bahasa dan lain-lain yang ada di suatu daerah tertentu. Salah satu kontekstualiasai yang dimaksud adalah Komunikasi (Bahasa), seorang Misionaris harus cepat kontekstualisasi dan belajar bahasa daerah setempat, untuk mudah berkomunikasi dengan orang-orang yang akan dilayani. Mengkomunikasikan mengenai Tuhan sesuai konteks setempat agar mereka mampu memahaminya.[1]

Menurut Ellis, menyatakan bahwa “firman Tuhan dapat disampaikan melalui wujud dalam kehidupan hamba-hamba Tuhan yang bersaksi atau memberitakan firman Tuhan. Jadi, dalam hidup berkontekstualisasi atau hidup berbaur dengan mereka, seorang pemberita Injil harus mencerminkan dalam kehidupannya sebagai pembawa berita terang Kristus[2]”.
Sedangkan menurut Soekanto, menyatakan bahwa “hubungan timbal balik antara satu sama lain melalui ekonomi, agama, budaya, politik, moral dan lain sebagainnya di suatu tempat atau kelompok, dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara”.[3]
Sesuai dengan penjelasan dari pernyataan oleh para teolog-teolog di atas bahwa, peneliti dan tim misi PUFST harus menyadari betapa pentingnya memahami suatu kultur dari daerah tertentu dengan cara berkontektualisasi. Karena salah satu kunci kesuksesan di dalam suatu pelayanan adalah ketika diterima di suatu daerah atau budaya yang berbeda.
Peneliti dan tim misi PUFST, sudah berusaha untuk menyesuaikan diri dari budaya, atau cara hidup bahkan mengikuti cara beraktivitas mereka, dengan tujuan bisa diterima di daerah setempat agar firman Tuhan dapat tersampaikan dengan baik dan mereka menerima juga dengan baik dan tepat.


[1]David J. Hesselgrave, Communicating Christ Cross-Culturaly, (Malang: SAAT, 2005), 91.
[2]David W. Ellis, Metode Penginjilan, (Jakarta: YKBK, 2011), 114-115.
[3]Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar, (Jakarta: Rajagrafindo Persada, 2009), 17-18.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TEMA-TEMA DALAM KITAB PL

Metode Penjangkauan Jiwa

Metode Penginjilan Yang Relevan di Suku Ketengban, Papua