Pelayanan Dengan Kontekstual Sandang (Pakaian)


Pelayanan Dengan Kontekstual Sandang (Pakaian)

Santoso, menyatakan bahwa “suatu kumpulan masyarakat yang modern dalam kehidupannya tidak terlepas dari sandang (pakaian). Masyarakat modern juga dianggap memiliki banyak masalah sosial dan ekonomi maka resikonya adalah tidak mampu untuk memenuhi kebutuhan sandang”.[1]
Sedangkan menurut Sztompka, menyatakan bahwa “masyarakat kini menunjukkan bahwa, betapa pentingnya mengenakan pakaian untuk meningkatkan keberanian dalam kelompok bermasyarakat, baik dalam pekerjaan, pergaulan, pendidikan dan sebagainya”.[2]

Wulansari, memaparkan bahwa “manusia sebagai homo sapiens maksdunya adalah manusia sebagai makhluk yang berpikir, manusia sejak lahir hingga menghembuskan nafasnya yang terakhir, tidak akan berhenti untuk berpikir dan melakukan hal-hal yang baik maupun buruk, setiap pengalaman panca inderanya dengan penuh keingintahuan dalam hal ini adalah mengenai aktifitas kehidupan seperti rumah, makanan, pakaian, sekolah, masa depan dan lain sebagainya”.[3]

Dengan demikian, orang-orang yang ada di suku Ketengban, sebagian besar masih berpakaian tradisional, belum semua mengenakan pakaian modern. Mereka mengenakan cawat bagi para wanita dan koteka bagi para pria. Para pelayan pemberita Injil Kristus yang terbeban untuk melakukan pelayanan kepada orang-orang yang ada di suku Ketengban, supaya bisa menyesuaikan diri dengan kehidupan warga setempat.


[1]Iman Santoso, Sosiologi The Key Concepts, (Jakarta: Rajagrafindo Persada, 2011), 265.
[2]Piotr Sztompka, Sosiologi Perubahan Sosial, (Jakarta: Prenadamedia Grup, 2004), 102.
[3]Dewi Wulansari, Op. Cit, 3.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TEMA-TEMA DALAM KITAB PL

Metode Penjangkauan Jiwa

Metode Penginjilan Yang Relevan di Suku Ketengban, Papua