Metode Penjangkaun Jiwa di Suku Ketengban



Peneliti dan tim misi PUFST, menyaksikan bahwa, orang-orang yang ada di suku Ketengban belum memahami secara tepat mengenai Allah, karena belum diajarkan mengenai pentingnya pengenalan secara pribadi kepada Allah pencipta langit dan bumi dan segala isinya, oleh sebabnya mereka masih menyembah berhala. Pelayanan penginjilan kedepannya adalah akan mengajarkan dan menjelaskan mengenai kemahakuasaan Allah yang menciptakan segalanya, agar orang-orang yang ada di suku Ketengban, untuk mengenal karya-karya Allah yang besar bagi dunia ini dan mengenal sifat-sifat Ilahi Allah bagi dunia ini.

Berikut ini adalah, beberapa sifat-sifat Allah yang peneliti mengemukakan untuk orang-orang yang ada di suku Ketengban, supaya mereka mengetahuinya dan dapat memuliakan Allah yang maha kuasa adalah sebagai berikut:
Pertama, Allah itu mahahadir: supaya orang-orang di suku Ketengban, untuk mengetahui bahwa, Allah itu ada di mana-mana pada saat yang bersamaan, karena Dia maha kuasa dan tidak terbatas.
Kedua, Allah itu mahatahu: supaya orang-orang di suku Ketengban, untuk mengetahui bahwa, Allah itu mengetahui segala sesuatu.
Ketiga, Allah itu mahakuasa: supaya orang-orang di suku Ketengban, untuk mengetahui bahwa, Allah itu sangat berkuasa dan memiliki kekuasaan mutlak atas segala sesuatu dan semua ciptaan-Nya.
Keempat, Allah itu mahatinggi: supaya orang-orang di suku Ketengban, untuk mengetahui bahwa, Allah itu berbeda dan terlepas dari semua ciptaan-Nya yang lain di dunia ini.
Kelima, Allah itu kekal: supaya orang-orang di suku Ketengban, untuk mengetahui bahwa, Allah itu ada dari selama-lamanya sampai selama-lamanya tidak terbatas dan tidak dibatasi oleh ruang dan waktu.
Keenam, Allah itu tidak berubah: supaya orang-orang di suku Ketengban, untuk mengetahui bahwa, sifat-sifat Allah itu tidak berubah, dalam berbagai kesempurnaan atau dalam maksud-Nya bagi umat manusia.
Ketuju, Allah itu sempurna dan kudus: supaya orang-orang di suku Ketengban, untuk mengetahui bahwa, Allah itu sama sekali tanpa dosa.
Kedelapan, Allah itu baik: supaya orang-orang di suku Ketengban, untuk mengetahui bahwa, segala sesuatu yang pada mulanya diciptakan-Nya baik.
Kesembilan, Allah itu kasih: supaya orang-orang di suku Ketengban, untuk mengetahui bahwa, kasih-Nya adalah yang tidak mementingkan diri sehingga merangkul seluruh dunia dari umat manusia orang benar maupun orang berdosa.
Kesepuluh, Allah itu penyayang dan pengasih: supaya orang-orang di suku Ketengban, untuk mengetahui bahwa, Allah itu tidak memusnahkan umat manusia seperti yang patut diterima karena banyaknya dosa manusia di dunia ini, tetapi Allah menawarkan pengampunan dari-Nya sebagai kasih karunia yang cuma-cuma untuk diterima melalui iman kepada Yesus
Kesebelas, Allah itu berbelaskasihan: supaya orang-orang di suku Ketengban, untuk mengetahui bahwa, Allah berbelas kasihan berarti ikut merasa sedih karena penderitaan orang lain, disertai keinginan untuk menolong bagi mereka yang tidak mampu menolong dirinya sendiri.
Kedua belas, Allah itu sabar dan lamban marah: supaya orang-orang di suku Ketengban, untuk mengetahui bahwa, Allah pertama kali mengungkapkan sifat ini di taman Eden, setelah Adam dan Hawa berbuat dosa, ketika Ia tidak membinasakan umat manusia sebagaimana hak-Nya, namun Ia sabar menanti pertobatan manusia.
Ketiga belas, Allah adalah Kebenaran: supaya orang-orang di suku Ketengban, untuk mengetahui bahwa, seperti yang Tuhan Yesus menyebut diri-Nya sendiri bahwa, Ia adalah “kebenaran”, dan Roh Kudus adalah Kebenaran”.
Keempat belas, Allah itu setia: supaya orang-orang di suku Ketengban, untuk mengetahui bahwa, Allah akan melaksanakan apa yang telah dinyatakan-Nya dalam Firman-Nya, melaksanakan semua janji dan peringatan-Nya.
Kelima belas, Allah itu adil: supaya orang-orang di suku Ketengban, untuk mengetahui bahwa, Allah melakukan adil dalam menopang tatanan moral semesta alam, dan dalam perlakuan-Nya terhadap umat manusia Ia bersikap benar dan tidak berdosa, bagi semua ciptaan-Nya di dunia ini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TEMA-TEMA DALAM KITAB PL

Metode Penginjilan Yang Relevan di Suku Ketengban, Papua

Metode Penjangkauan Jiwa