Metode Pelayanan di Suku Ketengban
Pelayanan dengan mengajarkan garis besar Alkitab Kejadian sampai Wahyu
dengan bahasa setempat
Mengajarkan garis besar Alkitab ke dalam bahasa daerah setempat,
hal ini harus dilakukan oleh peneliti dan tim misi PUFST, karena peneliti menyadari
bahwa, perlu diadakan pengajaran Alkitab secara garis besar dengan dengan
bahasa daerah setempat. Supaya orang-orang di suku Ketengban dapat memahami Alkitab
(firman Tuhan) dalam bahasa mereka dengan mudah, sebab sebagian besar penduduk
setempat tidak bisa berbahasa Indonesia.
Karena
di suku Ketengban memiliki tujuh wilayah dan sekitar tujuh puluh-an kampung
dengan dua bahasa yang berbeda yaitu: bahasa Lik (Lik Yupu), bahasa lik ini digunakan
oleh dua wilayah adalah: (1) Wilayah Eipomek,
yang terdiri dari empat belas kampung antara lain: Pertama, Barama kedua, Basiringe
ketiga, Bunyirye keempat, Eipomek kelima, Kweredala
keenam, Lalakon ketujuh, Londinin kedelapan, Malingdam
kesembilan, Mungkona kesepuluh, Serabum kesebelas, Supleyu kedua belas,
Talemu ketiga belas, Tanime keempat belas, Wakidam. (2) Wilayah Pamek, yang terdiri
dari sebelas kampung antara lain: Pertama,
Baramirye kedua, BaricBarikce ketiga, Imde keempat, Kalek kelima, Lumdakna
keenam, Mandalak ketujuh, Marikla kedelapan, Pamek
kesembilan, Pinggon kesepuluh, Yabosorom kesebelas, Yokul.
Sedangkan
bahasa Wara (Wara Upu), digunakan oleh lima wilayah yaitu: (1) Wilaya Bime, pertama, Bunggon kedua, Calab
ketiga, Kameme keempat, Lim Lim kelima, Limiri
keenam, Perem ketujuh Teli kedelapan, Turwe.
(2) Wilayah Weime, pertama, Daluban kedua, Limrepasikne ketiga, Mekdamgon keempat, Merpasikne kelima,
Meryang keenam, Nomteren ketujuh, Taramlu kedelapan, Weime kesembilan,
Youlban (Yolban) (3) Wilayah Nongme,
pertama, Cangpally kedua,
Kwarban ketiga, Nongme keempat, Omtamur kelima, Rubol keenam,
Yarigon ketujuh, Yokom. (4) Wilayah Borme,
pertama, Arina kedua, Aringgon ketiga,
Bordamban keempat, Borme kelima, Bukam keenam, Cangdamban ketujuh,
Kolgir kedelapan, Kwime kesepuluh, Laydamban kesebelas, Omban kedua
belas, Onya ketiga bela, Seban keempat bela, Sikibur. (5) Wilayah Okbab, pertama, Atembabol kedua,
Borban ketiga, Dumpasi keempat,
Kirimu kelima, Maksum keenam, Markom ketujuh, Omliom kedelapan,
Pedam kesembilan, Peneli kesepuluh, Sabin kesebelas, Tupoplyom kedua
belas, Yapil.
Peneliti
dan tim misi PUFST, memiliki suatu rencana kedepannya untuk mengajarkan warga
setempat dengan garis besar Alkitab dalam bahasa daerah setempat, bekerjasama dengan
tim misi atau misionaris dari daerah lain yang sudah dilakukan pelayanan penginjilan
di wilayah sekitarnya.
Adapun
langkah-langkahnya adalah sebagai berikut:
Pertama, peneliti
dan tim misi PUFST, belajar bahasa daerah penduduk setempat, saat melakukan pelayanan
pemberitaan Injil Kristus, supaya mereka bisa menerima dan memahami, dan juga bagi
penginjil untuk memperkaya bahasa daerah mereka, agar kedepannya bisa membuat
garis besar Alkitab dari Kejadian sampai Wahyu ke dalam bahasa daerah setempat
untuk mengajarkan mereka.
Kedua, peneliti
dan tim misi PUFST, mengajarkan kepada penduduk setempat untuk berbahasa
Indonesia, supaya mereka yang bisa mengerti bahasa Indonesia, agar disaat mengerjakan
garis Alkitab dalam bahasa mereka, dapat menggunakan jasa mereka saat menerjemahkan
garis besar Alkitab ke dalam bahasa daerah setempat.
Dengan
adanya dua bahasa yang berbeda dan cukup banyak kampung, maka hal ini membuat peneliti
dan tim misi PUFST, untuk harus mempelajari dan memahami soal bahasa yang digunakan
sehari-hari oleh orang-orang yang ada di suku Ketengban dalam berinteraksi. Karena
komunikasi itu sangat penting dalam melakukan pelayanan penginjilan, sebab sebagian
besar orang-orang yang ada di suku Ketengban tidak bisa berbahasa Indonesia, maka
suatu program lain yang akan dilakukan oleh tim misi PUFST, adalah belajar bahasa
daerah setempat untuk membuat materi garis besar Alkitab ke dalam bahasa mereka
dan mengajarkan, supaya mereka dapat memaham firman Tuhan dengan mudah.
Jadi,
peneliti dan tim misi PUFST, terbeban untuk akan mengajarkan abjad: cara membaca
dan menulis kepada orang-orang di suku Ketengban, supaya mereka bisa membaca materi
garis besar Alkitab dalam bahasa mereka. Karena selama ini peneliti dan tim misi
PUFST melakukan pelayanan penginjilan secara lisan, sebab sebagian besar penduduk
setempat tidak bisa membaca dan menulis. Maka, rencana kedepannya adalah mengajarkan
abjad: cara membaca dan menulis, supaya setelah adanya materi garis besar Alkitab,
mereka bisa membacanya dengan sendiri, tidak harus menunggu para penginjil.
Komentar
Posting Komentar