Metode Pelayanan di Suku Ketengban
Pelayanan
Dengan Belajar Berkomunikasi Bahasa Daerah Setempat
Belajar
berkomunikasi dengan bahasa daerah setempat, adalah
salah satu metode atau cara yang harus digunakan oleh tim misi PUFST, untuk melakukan
pelayanan penginjilan kepada orang-orang yang ada di suku Ketengban. Sebab setiap
suku dan bangsa memiliki bahasa dan budaya yang berbeda-beda, di seluruh dunia
ini.
Adapun di suku Ketengban, memiliki dua bahasa yang berbeda antara lain
adalah sebagai berikut:
1)
Bahasa Lik (Lik Yupu), bahasa Lik ini digunakan
oleh dua wilayah besar yaitu sebagai berikut:
a.
Wilayah
Eipomek, yang terdiri dari empat belas kampung antara lain: Pertama, Barama kedua, Basiringe ketiga, Bunyirye
keempat, Eipomek kelima, Kweredala keenam, Lalakon
ketujuh, Londinin kedelapan, Malingdam kesembilan, Mungkona kesepuluh, Serabum kesebelas, Supleyu kedua belas,
Talemu ketiga belas, Tanime dan keempat belas, Wakidam.
b.
Wilayah
Pamek, yang terdiri
dari sebelas kampung antara lain adalah sebagai berikut: Pertama, Baramirye kedua, Barikce
ketiga, Imde keempat, Kalek kelima, Lumdakna
keenam, Mandalak ketujuh, Marikla kedelapan, Pamek
kesembilan, Pinggon kesepuluh, Yabosorom dan kesebelas, Yokul.
2)
Bahasa Wara (Wara Upu), bahasa Wara digunakan
oleh lima wilayah besar yaitu sebagai berikut:
a)
Wilaya
Bime:
Pertama, Bunggon kedua, Calab ketiga, Kameme keempat, Lim Lim kelima, Limiri keenam, Perem
ketujuh Teli kedelapan, Turwe.
b)
Wilayah
Weime: Pertama, Daluban kedua,
Limrepasikne ketiga, Mekdamgon keempat,
Merpasikne kelima, Meryang keenam, Nomteren ketujuh, Taramlu kedelapan,
Weime kesembilan, Youlban (Yolban)
c)
Wilayah
Nongme: Pertama, Cangpally kedua,
Kwarban ketiga, Nongme keempat, Omtamur kelima, Rubol keenam,
Yarigon ketujuh, Yokom.
d)
Wilayah
Borme: pertama, Arina kedua,
Aringgon ketiga, Bordamban keempat, Borme kelima, Bukam keenam,
Cangdamban ketujuh, Kolgir kedelapan, Kwime kesembilan, Laydamban kesepuluh,
Omban kesebelas, Onya kedua belas, Seban ketiga belas, Sikibur.
e)
Wilayah
Okbab: Pertama, Atembabol kedua, Borban ketiga, Dumpasi keempat, Kirimu kelima,
Maksum keenam, Markom ketujuh, Omliom kedelapan, Pedam kesembilan,
Peneli kesepuluh, Sabin kesebelas, Tupoplyom kedua belas, Yapil.
Jadi, peneliti dan tim misi
PUFST, terbeban untuk akan mencarikan solusi dalam hal bahasa atau komunikasi kepada
orang-orang yang ada di suku Ketengban adalah sebagai berikut:
Pertama,
mengajarkan
penduduk setempat untuk belajar berbahasa Indonesia, supaya dapat berkomunikasi
dengan mereka nantinya.
Kedua,
peneliti
dan tim misi PUFST, sedang belajar bahasa daerah setempat. Karena di suku Ketengban
memiliki dua bahasa yang berbeda dari 75 kampung dengan puluhan ribu warga yang
ada di sana, maka peneliti dan tim misi PUFST harus belajar dari kedua bahasa yang
berbeda tersebut. Supaya dapat melayani masyarakat setempat dengan menggunakan
bahasa daerah yang digunakan oleh mereka untuk berkomunikasi. Dalam hal ini
adalah berkomunikasi untuk aktivitas setiap hari dengan penduduk setempat, maupun
untuk dapat digunakan dalam menyampaikan firman Tuhan kepada penduduk setempat,
dengan tujuan supaya mereka dapat memahami maksud dan tujuan yang disampaikan
oleh para penginjilan. Mudah diterima dan dipahami serta dimengerti karena
dalam pelayanan penyampaian firman Tuhan menggunakan bahasa yang biasanya
digunakan oleh penduduk setempat.
Ketiga,
para
penginjil yang terbeban untuk melakukan pelayanan penginjilan di suku Ketengban,
maka harus belajar berkomunikasi dengan bahasa daerah setempat. Dengan tujuan untuk
memudahkan berkomunikasi dengan warga setempat dengan bahasa yang dapat dimengerti.
Sebab peneliti mengalami dan menyaksikan bahwa, salah satu kendala dalam melakukan
pelayanan adalah sulit memahami bahasa daerah setempat.
Komentar
Posting Komentar