Metode Pelayanan di Suku Ketengban


Pelayanan Dengan Kontekstual Pangan (Makanan)

Pelayanan dengan kontekstual pangan (makanan), hal ini penting karena untuk di suku Ketengban, segala macam jenis makanannya hanya diperoleh melalui hasil bumi. Peneliti menyadari bahwa, dalam melakukan pelayanan penginjilan oleh tim misi PUFST, dari daerah atau budaya yang berbeda tentu akan menjadi tantangan tersendiri, karena daerah tersebut menjadi budaya yang baru bagi tim misi PUFST. Sebab daerahnya masih sangat terisolir, dilihat dari segala sudut pandang, dalam hal ini adalah makanannya dan minumannya tidak seperti daerah lain pada umumnya. 

Adapun beberapa jenis makanan yang menjadi kosumsi utama orang-orang di suku Ketengban adalah sebagai berikut:
Pertama, ubi Jalar atau ketela, kedua, keladi, ketiga, berbagai jenis pisang, keempat, singkong, kelima, sayur lilin, keenam, berbagai jenis tebu, ketujuh, sayur labu siam, kedelapan, sayur gedi, kesembilan, daun muda dari keladi, kesepuluh, sayur hijau, dan kesebelasa, apabila untuk minuman (air putih) warga harus mengambilnya dengan berjalan kaki sekitar tiga kilometer dari rumah.

Berikut ini ada beberapa cara untuk memasak makanan, bagi orang-orang yang ada di suku Ketengban adalah:
a.              Memasak di atas bara api kemudian dikuburkan diarang abu api yang sudah dipasang tunggu apinya ditengah-tengah dalam rumah yang dibuat oleh warga setempat, sebagai tempat menyalahkan api.
b.             Membakar batu-batu, maksudnya adalah warga setempat memanaskan batu di bara api sampai sudah memas barulah dibuatkan sebuah kotak berbentuk kolam yang berukuran kecil, kemudian di alasi dengan daun pisang untuk memasak segala jenis makanan dengan mengambur batu-batu panas dan diatur dedaunan pisang untuk dibungkus batu panas dengan daun pisang, dan ditutupi dengan daun pisang lain atasnya paling atas ditutupi dengan tanah, supaya uap panas dapat memasak makanan, untuk memasaknya menunggu sekitar dua jam.
c.              Untuk memasak sayur mayur dibungkus dengan daun keladi maupun daun pisang dan meletakan di atas bara api, agar sayurnya matang dan dinikmati oleh orang-orang yang ada di suku Ketengban. Disana memiliki sepuluh jenis makanan yang sudah disebutkan diatas, itulah makanan pokok kehidupan warga setempat. Tidak ada jenis makanan lain yang ada di sana, baik sayuran maupun buah-buahan serta minuman. Hal ini, tentu akan membuat para penginjil mengalami kesulitan untuk menyesuaikan diri dengan makanan dan minuman yang ada di suku Ketengban.

Peneliti dan tim misi PUFST akan memberikan pemahaman dalam hal kegunaan kebutuhan pangan (makanan). Berikut ini adalah hal-hal yang perlu untuk diberikan pemahaman kepada penduduk setempat adalah:
Pertama, diberikan pemahaman dan nasihat supaya, penduduk setempat dapat menjaga kebersihan dalam hal makanan pokok seperti ubi jalar dan keladi. Karena penduduk setempat biasanya diambil dari hasil berkebun di hutan, dan dibawa ke rumah tanpa harus dicuci dengan air, kemudian dibakardi atas bara api dan dikuburkan di dalam abu yang panas, setelah selang beberapa jam kemudian diangkat dan langsung dimakan. Hal ini akan berbahaya bagi kesehatan mereka.
Kedua, diberikan pelatihan cara menanam bibit sayur bunjis yang benar dan baik, serta diberi pemahaman untuk cara mengkonsumsi untuk kesehatan bagi kehidupan penduduk setempat.
Ketiga, diberikan pelatihan cara menanam bibit wortel yang benar dan baik, serta ajarkan mereka supaya dapat mengkonsumsi, sebab wortel memiliki khasiat yang cukup bagus buat kesehatan mata.
Keempat, diberikan pelatihan cara menanam bibit kentang yang benar dan baik, serta memberikan pemahaman kepada mereka untuk dapat mengkonsumsinya, karena selain buat makanan penting juga buat kesehatan mereka.
Kelima, diberikan pelatihn cara menanam bibit tomat yang benar dan baik, dan diajarkan cara mengkonsumsinya.
Keenam, diberikan pelatihan cara menanam bibit bawang yang benar dan baik, serta cara mengkonsumsinya.
Ketujuh, diberikan pelatihan cara menanam bibit cabe yang benar dan baik, serta cara mengkonsumsi, agar penduduk setempat dapat mengkonsumsinya.
Kedelapan, mengajari penduduk setempat untuk memasak makanan dengan cara modern, yaitu menggunakan kuali atau wajan, belanga, panji, sendok, minyak goreng, garam, vetsin serta bumbu-bumbu modern lainnya.
Kesembilan, mengajarkan untuk memakan berbagai jenis buah-buahan seperti: papaya, jeruk, nenas, buah terung, buah labu dan lain sebagainya.
Jadi, peneliti dan tim misi PUFST, akan mengajarkan cara mengelola bahan pokok makanan melalui hasil bumi, supaya penduduk setempat dapat mengkonsumsi makanan yang baru bagi mereka, dalam kehidupan mmereka.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

TEMA-TEMA DALAM KITAB PL

Metode Penjangkauan Jiwa

Metode Penginjilan Yang Relevan di Suku Ketengban, Papua