Metode Pelayanan di Suku Ketengban
Metode Pelayanan
Dengan Kontekstual Papan (Rumah)
Pelayanan yang bersifat kontekstual
papan (rumah), diperlukan oleh seorang penginjil,
karena seseorang
yang menyerahkan diri sepenuh hati untuk mengabdi di daerah yang terisolir, harus
menghadapi berbagai resiko salah satunya adalah rumah, karena rumah tempat
tinggal yang tidak sesuai dengan keinginan hati nuraninya. Sebab perumahan warga
yang ada di suku Ketengban, adalah semuanya masih bersifat tradisional. Karena semua
bahan bangunan yang digunakan untuk membangun rumah warga setempat adalah material
yang mudah untuk lapuk, rusak dan tidak bisa bertahan lama.
Adapun bahan material yang
digunakan oleh warga setempat untuk membangun rumah atau tempat tinggal adalah
sebagai berikut:
1)
Berbagai jenis potongan kayu, dijadikan sebagai
tiang, pondasi, atau membentuk sebuah kerangka rumah, serta potongan pohon dijadikan
papan untuk menutupi di setiap sela-sela dan dijadikan sebagai mengalasi lantai.
2)
Potongan tali rotan dipergunakan sebagai bahan
untuk mengikat sambungan potongan kayu yang menjadikan sebagai tiang, papan untuk
dinding serta lantai rumah.
3)
Daun pandan yang memiliki beberapa jenis serta
ukurannya besar dan panjang dipergunakan sebagi atap rumah.
4)
Rumah yang berbentuk bulat, membuat bara
api di dalam rumah persis ditengah-tengah, untuk tempat memasak makanan dan menghangatkan
tubuh.
5)
Lantai rumah, sebagian besar masih dengan
tanah dan sebagian digunakan potongan kayu sebagai lantai untuk alas tidur dan
lain-lain.
Dengan bahan dasar untuk
membangun rumah tersebut diatas ini, tentu akan membahayakan kesehatan mereka
dan keselamatan dalam hal jasmani penduduk setempat, maka adapun hal-hal yang
perlu dilakukan oleh tim misi PUFST adalah:
Pertama,
memberikan
pengertian dan pemahaman, kepada orang-orang yang ada di suku Ketengban, mengenai
betapa bahayannya tidur di atas lantai yang berbahan tanah. Karena dapat
membahayakan kesehatan dalam hal paru-paru basah dan lain sebagainya.
Kedua,
memberikan
nasihat kepada orang-orang di suku Ketengban, supaya rumah tempat tinggalnya tidak
tercampur dengan hewan peliarahan dalam hal ini adalah ternak babi. Karena penduduk
setempat dijadikan satu rumah dengan ternak peliarahannya, hanya dibatasi dengan
beberapa lembar kayu untuk dijadikan tempat bagi ternaknya. Hal ini tentu membahayakan
bagi kesehatan karena ternak babi tersebut kadangkala buang kotorannya di dalam
rumah.
Ketiga,
memberikan
pemahaman kepada orang-orang yang ada di suku Ketengban, supaya dapat menjaga
kebersihan di dalam rumah maupun di halaman rumahnya. Karena, selama ini di
halaman rumahnya banyak rumputan dan berbagai kotoran yang dapat mendatangkan sakit
penyakit, bagi penduduk setempat. Supaya mereka menjaga kebersihan, agar dapat
meminimalisir beberbagai sakit penyakit yang dapat menimpah dalam kehidupan mereka.
Keempat,
apabila
kedepannya ada bahan bangunan yang modern seperti, senk atau paku, gergaji dan
lain-lain, bisa diberikan pemahaman kepada penduduk setempat untuk dapat dipergunakan
dalam membangun rumah tempat tinggal. Karena selama ini penduduk setempat masih
menggunakan bahan-bahan lokal untuk membangun rumah tempat tinggal yang
bersifat tradisional.
Peneliti dan tim misi PUFST, supaya
bisa menyesuaikan diri dalam segala situasi dan kondisi, dalam hal ini adalah rumah
tempat tinggal orang-orang di suku Ketengban. Apabila tidak bisa menyesuaikan
diri, maka bisa membuat seorang pelayan Tuhan untuk tidak dapat bertahan tinggal
dan menetap di sana. Karena rumah tempat tinggal yang kondisinya tidak sesuai dengan
yang diinginkan, maka para penginjil untuk dapat menyesuaikan diri dengan tempat
tinggal (rumah) yang ada di suku Ketengban, agar dapat melakukan pelayanan penginjilan
dengan tepat sasaran.
Beberapa tahun terakhir ini,
peneliti dan tim misi PUFST, telah menyesuaikan diri atau tinggal bersama satu rumah
dengan orang-orang yang ada di suku Ketengban, memasak makanan bersama mereka,
memakan makanan bersama mereka, tidur bersama mereka, agar dapat menyampaikan firman
Tuhan dengan baik. Apabila mereka terbuka hati untuk mendengarkan Injil Kristus
yang disampaikan oleh tim misi PUFST, supaya iman percaya mereka tetap teguh di
dalam Yesus Kristus yang adalah Tuhan dan Juruselamat serta pengampun dosa manusia,
bagi mereka yang mengakui dan percaya kepada-Nya. Sebagai pemberita Injil Kristus,
harus dengan segenap hati dalam melakukan penginjilan kepada orang-orang yang
ada di suku Ketengban.
Komentar
Posting Komentar