Meode Pelayanan di Suku Ketengban


Pelayanan Dengan Mengenal Dan Memahami Medan (Jarak)

Mengenal dan memahami medan (jarak), adalah sangat penting bagi para penginjil sebab di suku Ketengban masih dalam daerah atau wilayah yang terisolir, maka apabila Tuhan menggerakan hati para pembaca tesis ini dan memiliki kerinduan hati untuk melakukan penginjilan di suku Ketengban harus bersediah untuk berjalan kaki, karena tidak ada pilihan lain. Aktivitas apa pun dan lokasinya di manapun, jauh ataupun dekat, pihihanya hanya satu yaitu menempuh perjalanan dengan berjalan kaki. Dengan ini, maka para penginjil supaya harus siap dan mampu untuk menempuh perjalanan dengan berjalan kaki, maka harus menguasai jalan darat, dan medan atau jarak perjalanan, bahkan situasi dan kondisi jalan yang ada di suku Ketengban.

Peneliti menyadari bahwa, medan di tempat penginjilan menjadi kendala bagi para pemberita Injil Kristus di suku Ketengban. Karena di sana hanya bisa menempuh perjalanan dari kampung yang satu ke kampung yang lain dengan berjalan kaki. 

Adapun beberapa hal yang menjadi kendala dengan medan atau jarak adalah sebagai berikut:
1)   Naik gunung yang tinggi, rata-rata empat ratus sampai dengan empat ribu meter dari permukaan laut.
2)        Menyeberangi sungai-sungai di sepanjang perjalanan dari kampung yang satu ke kampung yang lain, sungau yang sangat besar dan arus derasnya air yang kencang dan kuat, tidak sedikitnya warga setempat yang hanyut terbawa oleh karena derasnya arus sungai-sungai yang ada di suku Ketengban.
3)     Belum ada jembatan permanen, yang menghubungkan kampung satu ke kampung yang lain, namun selama ini warga setempat membuat jembatan kayu diikat dengan tali rotan.
4)      Perjalanan yang melintasi hutan raya, jauh dari pemukiman warga memakan waktu sekitar lima belas jam dalam perjalanan, dari kampung yang satu menuju ke kampung yang lain. Keluar dari kampung yang satu sekitar jam emapt subuh atau pagi hari sampai tiba di kampung yang berikutnya sekitar jam enam sore menjelang malam hari.

Jadi, untuk memudahkan para penduduk setempat dalam menempuh perjalanan dari kampung yang satu ke kampung yang lain, maka peneliti menawarkan beberapa alternative, solusi atapun metode adalah sebagai berikut:
Pertama, memberikan masukan atau arahan kepada orang-orang yang ada di suku Ketengban, supaya mereka membangun suatu rumah atau pondok ditengah-tengah hutan, sebagai tempat penginapan, bagi setiap orang yang akan bepergian dari kampung yang satu sedang menuju ke kampung yang lain. Sebab hanya sekali jalan dan seharian penuh tanpa beristirahat, akan membahayakan keselamatan setiap orang yang melakukan perjalanan, karena sebagian penduduk setempat yang seringkali hilang di tengah hutan, diterkam serigala maupun meninggal ditengah hutan karena mengalami kedinginan akibat tidak adanya tempat peristirahatan di tengah-tengah hutan belantara.
Kedua, memberikan pemahaman kepada penduduk setempat untuk membuat jalan dengan mengukur medan alternative yang dekat, supaya tidak harus memutar rute perjalanan yang jahu dengan memakan waktu yang lama.
Ketiga, memberikan dorongan serta pemahaman dan nasihat kepada penduduk setempat, untuk membangun jembatan kayu di setiap sungai, supaya penduduk setempat dapat melaluinya, karena tidak sedikit orang yang hanyut terbawa oleh arus derasnya sungai.

Masih banyak kendala lain, khusus untuk medan atau jarak wilayah dari perkampungan, dengan jarak seperti inilah yang membuat peneliti dan tim misi PUFST, sangat berat untuk melakukan penginjilan dengan mudah dan cepat. Maka, kedepannya para penginjil yang tergerak hatinya untuk melakukan pelayanan penginjilan harus memahami kondisi setempat dengan baik, agar firman Tuhan dapat diberitakan kepada orang-orang yang ada di suku Ketengban.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TEMA-TEMA DALAM KITAB PL

Metode Penjangkauan Jiwa

Metode Penginjilan Yang Relevan di Suku Ketengban, Papua