Kualitas Rohani Dalam Penginjilan
Kualitas
Rohani Dalam Penginjilan
Pengenalan
Kepada Allah, Venema,
menyatakan bahwa “kitab suci selalu menekankan Allah sebagai Pencipta langit dan
bumi, seluruh bumi dengan segala isinya, termasuk segenap umat manusia. Semua
manusia dari bangsa mana pun memperoleh kehidupan dari Tuhan yang adalah sebagai
Pencipta”.[1]
Gerald
& Edward, menyatakan bahwa “bangsa Israel menyembah Allah yang hidup dan tidak
diizinkan untuk percaya dan menyembah illah manapun dan dalam bentuk apa pun, selain
dari pada Allah YHWH. Perintah yang
terpenting yang diberikan oleh TUHAN Allah kepada bangsa Israel ketik bangsa
ini keluar dari Mesir adalah takut akan TUHAN dalam segala tingkah laku dan tindakan”.[2]
Sedangkan
menurut Berkhof, menjelaskan bahwa “teologi reformed percaya bahwa Tuhan dapat
dikenal, akan tetapi tidak mungkin manusia dapat memperoleh pengenalan yang
lengkap menyeluruh dan sempurna tentang Dia, diharapkan manusia mengenal Tuhan
sesuai dengan pedoman dari Alkitab”.[3]
Towns, juga
memberikan suatu argumen bahwa,
El Shaddai, Allah Yang Maha Kuasa, adalah
sebuah nama yang harus dikenal dan dipercayai setiap orang percaya. Pada waktu
kita menghadapi masalah-masalah atau bahaya-bahaya, kita dapat berseru kepada yang
Mahakuasa untuk memohon pertolongan-Nya. Ia tidak selalu menyingkirkan masalah-masalah
kita atau menyisihkan kita dari badai-badai kehidupan, tetapi ia akan memberi kita
kekuatan untuk menghadapinya.[4]
Dutton
dan Tozer, memaparkan bahwa “jika ada seseorang yang mengatakan bahwa ia mengerti
tentang Engkau, dan ingin memberikan sesuatu agar mereka dapat mengerti tentang
Engkau, orang ini pun jauh daripada mengerti akan Engkau karena Engkau bersifat
mutlak, di luar segala konsep yang mungkin dibentuk oleh manusia, namun alangkah
baiknya semua orang mengenal Engkau”.[5]
Jadi, kerinduan peneliti untuk orang-orang ada di suku Ketengban
agar mereka mengenal Allah yang benar, berikut ini adalah beberapa sifta-sifat
Allah yang harus diketahui oleh penduduk setempat adalah sebagai berikut:
Pertama, mengenal Allah itu mahahadir. Kedua, mengenal Allah itu mahatahu. Ketiga, mengenal Allah itu mahakuasa. Keempat, mengenal Allah itu mahatinggi. Kelima, mengenal Allah itu kekal. Keenam, mengenal Allah yang tidak berubah. Ketuju, mengenal Allah itu sempurna dan kudus. Kedelapan, mengenal Allah itu baik. Kesembilan, mengenal Allah itu kasih. Kesepuluh, mengenal Allah itu penyayang dan pengasih. Kesebelas, mengenal Allah itu berbelaskasihan.
Kedua belas, mengenal Allah itu sabar
dan lamban marah. Ketiga belas, mengenal
Allah adalah kebenaran. Keempat belas, mengenal
Allah itu setia. Kelima belas, mengenal
Allah itu adil.
Pengenalan
Kepada Tuhan Yesus Kristus, Ryrie,
menyatakan bahwa, “keselamatan adalah sepenuhnya pekerjaan Allah, melalui
pengurbanan Yesus Kristus di atas kayu salib. Betapa pentinganya Injil Kristus diberitakan
kepada seluruh umat manusia yang ada di dalam dunia ini, pada saat sesorang percaya
ia diselamatkan dari hukuman dosa (Efesus 2:8; Titus 3:5)[6]”.
Ajaran tentang Keselamatan merupakan pokok bahasan yang paling luas dalam Alkitab.
Karena Keselamatan adalah kebutuhan seluruh umat manusia tanpa terkecuali.
Lebih
lanjut lagi dijelaskan oleh Ryrie bahwa,
Dari
sudut pandang Allah, keselamatan meliputi segenap karya Allah dalam membawa manusia
keluar dari hukuman menuju pembenaran, dari kematian ke kehidupan yang kekal, dari
musuh (seteru) menjadi anak. Dari sudut pandang manusia, keselamatan mencakup segala
berkat yang berada di dalam Kristus, yang bisa diperoleh dalam kehidupan sekarang
maupun kehidupan yang akan datang, semuanya dikerjakan melalui Tuhan Yesus
Kristus yang perlu diketahui oleh setiap manusia di dunia ini. Ini semua adalah
pekerjaan Allah dengan inisiatif-Nya yang penuh kasih yang tidak terbatas kepada
manusia berdosa. Kerinduan Allah adalah semua manusia meresponi anugerah-Nya,
dengan cara mengakui Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat dalam kehidupan
mereka secara pribadi.[7]
Sedangkan
Brill, menjelaskan bahwa,
Berhubungan atau berkomunikasi dengan Tuhan
Yesus merupakan pernyataan dari manusia kepada Allah untuk segala sesuatu. Bukti
pengenalan akan Yesus adalah doa karena doa mendatangkan kuasa Allah dalam kehidupan
manusia. Tujuan berdoa adalah untuk memuji Tuhan Yesus, mengucap syukur kepada
Allah meminta pertolongan dari Allah bagi diri kita dan bagi orang lain. Disaat
kita memanjatkan permohonan doa kepada Allah maka kita yang berdoa harus memiliki
pengharapan bahwa kita akan menerima dari Tuhan, tanpa berada dalam suatu keragu-raguan.[8]
Parel,
menyatakan bahwa “Allah memberikan perintah untuk datang berdoa kepada-Nya bukan
berarti Ia tidak mengetahui kebutuhan yang sedang diperlukan. Ia memberikan
perintah demi umat-Nya, yaitu hubungan dengan Dia dan hidup menurut
kehendak-Nya. Seorang yang mengaku umat Tuhan berarti hidup dibawah pimpinan dan
pengaruh kuat kuasa Roh Kudus yang membawanya melakukan kehendak Allah, yaitu
berdoa. 1 Tesalonika 5:17, tetaplah berdoa”.[9]
Dengan
demikian maka, orang-orang yang ada di suku Ketengban, harus diberberitahukan mengenai
Injil Kristus, supaya mereka mengenal-Nya. Sebab keselamatan adalah segenap karya
Allah dengan membawa manusia keluar dari hukuman menuju pembenaran, dari
kematian ke kehidupan kekal, dan dari musuh menjadi anak. Kerinduan peneliti
dan tim misi PUFST, supaya kualitas rohani orang-orang di suku Ketengban menjadi
baik, dengan dibuktikan melalui pengenalan akan Tuhan, dengan percaya, mengimani
dan beribadah serta mempraktikkan Firman-Nya.
Pengenalan
Kepada Roh Kudus, Brill,
menyatakan bahwa “setiap orang percaya perlu diketahui bahwa, ketika manusia
jatuh ke dalam dosa, rohnya terpisah dari Allah dan mati (secara rohani). Roh
yang mati itu harus dibangkitkan atau dihidupkan melalui kelahiran baru
(dilahirkan kembali dalam roh). Dilahirkan kembali berarti menerima kodrat ilahi
oleh pekerjaan Roh Kudus dengan perantara Firman Allah”.[10]
Ryrie, menyatakan bahwa “keselamatan selalu melalui
iman, (Efs. 2:8). Melalui iman manusia memerima karunia hidup kekal dari Allah;
untuk itulah manusia tidak bisa membanggakan diri, atas segala perbuatan baiknya,
iman diperlukan sebagai jalan satu-satunya untuk memperoleh hidup yang kekal (Yohanes
5:24; 17:3)”.[11]
Sedangkan Guna, memberikan suatu argumen bahwa,
Ada yang menganggap
bahwa bekerja bukanlah pekerjaan yang mulia; seseorang tidak boleh menghabiskan
waktunya terlalu banyak di dunia bisnis tanpa diimbangi dengan kegiatan yang
bersifat rohani. Akhirnya, dunia bisnis menjadi area yang terpisah dari dunia
rohani. Segala yang ada di dunia bisnis di anggap tidak dapat diatur dan pasti tidak
cocok dengan kehidupan spiritual, ini disebabkan banyak orang yang tidak mengenal
Roh Allah dan membukakan hatinya untuk dituntun oleh Roh Kudus, maka betapa
pemtingnya orang percaya harus mengenal Roh Allah dengan benar.[12]
Jadi, setiap orang percaya perlu memiliki iman bahwa, Roh
Kudus adalah Pribadi yang memiliki akal budi, perasaan dan kehendak. Roh Kudus adalah
Allah, sebab Dia memiliki sifat-sifat Allah. Salah satunya adalah Roh Kudus Sang
Mahahadir (Mazmur 139:7-8). Peneliti dan
tim misi PUFST memiliki kerinduan hati untuk memberikan pemahaman mengenai Roh
Kudus kepada orang-orang di suku Ketengban, supaya mereka juga mengetahui
kemahakuasaan Roh Kudus. Sebab Roh Kudus adalah pribadi Allah itu sendiri, yang
mampu menuntun mereka ke jalan yang benar.
[1]H. Venema, Op.
Cit., 85.
[2]Gerald O’collins, SJ & Edward G. farrugia, SJ, KamusTeologi, (Jogyakarta: Kanisius Anggota IKAPI, 1996 ), 23.
[6]Charles C. Ryrie, Teologi Dasar 2 Panduan Populer Untuk Memahami Kebenaran Alkitab, (Yogyakarta:
Andi Offset, 1991), 16-17.
Komentar
Posting Komentar