Kondisi Suku Ketengban Kabupaten Pegunungan Bintang


Kondisi Suku Ketengban Kabupaten Pegunungan Bintang

Kabupaten Pegunungan Bintang adalah salah satu Kabupaten di Provinsi Papua, Indonesia, ibu kota kabupaten ini terletak di Oksibil. Kabupaten Pegunungan Bintang menjadi satu-satunya kabupaten di Pegunungan Jayawijaya yang berbatasan langsung dengan Negara Papua Nugini. 90% wilayahnya terletak di dataran tinggi pegunungan dengan ketinggian 400-4.000 meter dari permukaan laut. Kabupaten ini memiliki luas wilayah 15.682 km2.
Wilayah Kabupaten Pegunungan Bintang berbatasan dengan Kabupaten Jayapura dan Kabupaten Keerom di sebelah Utara, Kabupaten Boven Digoel di sebelah Selatan, Kabupaten Asmat, dan Kabupaten Yahukimo di sebelah Barat dan Negara Papua Nugini di sebelah Timur. Hampir disetiap distrik terdapat lapangan terbang, tetapi hanya lapangan terbang di Oksibil dan Batom saja yang suda diaspal dan bisa didarati pesawat Twin Otter.
Melkior, menyatakan bahwa “Kabupaten Pegunungan Bintang merupakan bagian dari zone tropis lembap. Umumnya iklim cenderung panas, basah (lembap) dengan curah hujan yang bervariasi antara tempat yang satu dengan tempat yang lainnya. Curah hujan pada umumnya antara 2.000–3.000 mm/th. Suhu udara minimum adalah ± 19,20C dan suhu maksimum adalah 31,90C. Kelembaban udara cukup tinggi, terutama disebabkan karena angin yang bertiup berasal dari pegunungan”.[1]
a.              Kabupaten ini memiliki kondisi geografis yang khas, di mana sebagian besar wilayahnya pegunungan terutama di bagian barat, penduduk bermukim di lereng gunung yang terjal dan lembah-lembah kecil dalam kelompok-kelompok kecil, terpencar dan terisolir; dataran rendah hanya terdapat di bagian utara dan selatan dengan tingkat aksesibilitas wilayah yang sangat rendah. Hal ini membuat para pelayan dari kota-kota besar baik dari pihak pemerintah maupun pihak gereja, tidak betah untuk tinggal menetap dan melakukan pelayanan di sana.
b.             Beberapa kali dilakukan pelayanan oleh pemerintah dengan membangun: Taman Kanak-kanak (TK), Sekolah Dasar (SD), Pusat Kesehatan Masyarakat (PUSKEMAS) dan dari pihak gereja membangun tempat ibadah (gereja), namun tidak melakukan dengan segenap hati maka tidak berjalan dengan baik, disebabkan kondisi daerah yang masih terisolir.
c.              Warga setempat tidak bisa berbahasa Indonesia, hal ini membuat segala aspek pelayanan baik dari pihak pemerintah maupun pihak gereja sulit diterima dengan baik oleh warga setempat, karena ketidak mengertian bahasa, bila dibanding dengan wilayah lainnya di tanah Papua, daerah inilah yang sangat sulit dalam segala hal.
d.             Akibat dari ketidaktahuan bahasa Indonesia oleh warga setempat, membuat kesulitan menerima setiap kunjungan atau pelayanan baik dari pihak pemerintah maupun pihak gereja yang diadakan pelayanan di sana.
e.              Tidak dapat dipunggiri bahwa, masyarakat setempat belum siap untuk menerima para pelayan, baik dari pihak pemerintah maupun pihak gereja, sebab hal itu akan menjadi sesuatu yang asing atau baru bagi mereka.
f.               Hingga saat ini seluruh pelayanan di wilayah ini, belum merealisasi dengan baik, akhirnya sebagian besar masih buta huruf, tidak bisa berbahasa Indonesia. Tidak ada orang yang bisa menetap disana karena pelayanannya hanya dilakukan dengan transportasi udara, menggunakan pesawat kecil jenis Cessna, Pilatus, Twin Otter, Cassa dan itupun sangat tergantung pada perubahan cuaca yang sering berkabut.
g.             Keterbatasan transportasi udara dengan biaya angkutan yang cukup tinggi menyebabkan harga barang kebutuhan pokok dan bahan bangunan (terutama bahan import) menjadi sangat mahal, sehingga tidak terjangkau oleh daya beli masyarakat. Tingginya tingkat kemahalan harga barang juga disebabkan karena hampir semua barang kebutuhan pokok dan bahan bangunan didatangkan dari Jayapura menggunakan transportasi udara dengan biaya angkutan barang mulai Rp. 30.000; per kilogram dan tarif angkutan penumpang mulai Rp. 1.500.000; per orang.
Secara administrasi batas-batasnya adalah sebagai berikut: “sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Keerom, sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Boven Digoel, sebelah Timur berbatasan dengan Negara tetangga Papua New Guinea (PNG) dan sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Yahukimo. Terbagi ke dalam 34 (tiga puluh empat) distrik dan 277 desa/kampung. Terbagi dalam dua suku/wilayah yaitu: Suku Ngalum dan Suku Ketengban.”[2]
Dengan demikian maka, peneliti (Tirianus Malyo) bersama tim misi PUFST telah diadakan pertemuan sederhana untuk membuat suatu visi dan misi serta program untuk menyepakati metode-metode yang akan digunakan dalam pelayanan penginjilan kepada orang-orang di suku Ketengban. Dengan tujuan tim misi PUFST untuk dapat diterapkan visi dan misi yang sudah disepakati saat melakukan pelayanan penginjilan atau pemberitaan Injil Kristus kepada orang-orang di suku Ketengban.
Tidak hanya visi dan misi yang diutamakan untuk mewujudkan dalam melakukan pelayanan penginjilan namun, metode-metode yang disepakati juga dapat diterapkan oleh tim misi PUFST disaat melakukan pelayanan penginjilan atau pemberitaan Injil Kristus. Agar kabar baik atau kabar keselamatan bisa tersampaikan dengan baik dan tepat kepada orang-orang yang belum mendengarkannya dan belum percaya kepada Tuhan Yesus, khususnya bagi mereka yang tinggal di suku Ketengban, Kabupaten Pegunungan Bintang, Proinsi Papua. Supaya dapat diselamatkan melalui pemberitaan injil Kristus, dan mereka menerima dan mengimani kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat dalam kehidupan mereka melalui anugerah kasih karunia Allah.


[1]Melkior, Op. Cit., 21.
[2]Melkior, Loc. Cit., 79-83.
Suku Ketengban adalah di mana tempat peneliti melakukan Pelayanan Penginjilan atau pemberitaan Injil Kristus, Bersama dengan Tim Misi PUFST.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TEMA-TEMA DALAM KITAB PL

Metode Penjangkauan Jiwa

Metode Penginjilan Yang Relevan di Suku Ketengban, Papua