Garis Besar Metode yang relevan untuk pelayanan di suku Ketengban


Garis Besar Metode yang relevan untuk pelayanan di suku Ketengban

a.             Pelayanan Dengan Kontekstual Interpersonal
Ellis, menyatakan bahwa “firman Tuhan dapat disampaikan melalui wujud dalam kehidupan hamba-hamba Tuhan yang bersaksi atau memberitakan firman Tuhan. Jadi, dalam hidup berkontekstualisasi atau hidup berbaur dengan mereka (jemaat), dan seorang pemberita Injil harus menjerminkan dalam kehidupannya sebagai pembawa berita terang Kristus[1]”.
Peneliti dan tim misi PUFST, sudah berusaha untuk menyesuaikan diri dengan budaya, atau mengikuti cara beraktivitas seperti pergi ke kebun bersama, memakan makanan khas setempat, tinggal serumah dengan warga setempat. Dengan tujuan bisa diterima di daerah setempat agar firman Tuhan dapat tersampaikan dengan baik dan mereka menerima dengan baik.

b.             Pelayanan Dengan Kontesktual Papan (Rumah)
Soekanto, menyatakan bahwa “hal yang paling menjolok dalam sosial adalah papan (Rumah) sebagai sesuatu yang sangat penting dalam kehidupan sosial masyarakat. Masyarakat harus memiliki rumah sebagai suatu wadah untuk memenuhi kepentingan dalam bermasyarakat untuk dapat hidup bertahan disuatu tempat tertentu”.[2]
Peneliti dan tim misi PUFST telah dan akan terus untuk menyesuaikan diri dengan tempat tinggal (rumah), menetap dan tidur bersama serumah dengan orang-orang yang ada di suku Ketengban. Dengan tujuan firman Tuhan dapat tersampaikan dengan baik, dengan tujuan iman mereka berakar dan bertumbuh teguh di dalam Yesus Kristus yang adalah Tuhan dan Juruselamat.

b.             Pelayanan Dengan Kontekstual Pangan (Makanan)
Soekanto, menyatakan bahwa “gerak sosial adalah suatu gerak dalam struktur sosial yaitu pola-pola tertentu yang mengatur organisasi suatu kelompok sosial, struktur sosial mencakup sifat-sifat hubungan antara individu dalam kelompok dan hubungan antara individu dengan kelompoknya, yang dibutuhkan dalam hubungan individu maupun kelompok agar tetap berlanjut adalah makanan”.[3]
Jadi, peneliti dan tim misi PUFST, sudah dan akan terus untuk memakan makanan pokok di suku Ketengban seperti: Ubi Jalar dan Keladi serta singkong, sayur gedi dan daun muda dari Keladi, daun muda labu siam yang dimasak sesuai dengan cara masakan tradisional yaitu dibakar di atas bara api. Hal ini tentu menjadi kendala dalam pelayanan pemberitaan Injil Kristus di suku Ketengban.

c.              Pelayanan Dengan Kontekstual Sandang (Pakaian)
Sztompka, menyatakan bahwa “masyarakat kini menunjukkan bahwa, betapa pentingnya mengenakan pakaian untuk meningkatkan keberanian dalam kelompok bermasyarakat, baik dalam pekerjaan, pergaulan, pendidikan dan sebagainya”.[4]
Jadi, orang-orang yang ada di suku Ketengban, sebagian besar masih berpakaian tradisional, belum semua mengenakan pakaian modern. Mereka mengenakan cawat bagi para wanita dan koteka bagi para pria. Maka peneliti dan tim misi PUFST, akan mengarjakan untuk tetap menjaga kebersihan, serta memberikan pemahaman supaya koteka dan cawat yang tidak layak digunakan harus diganti dengan yang baru. Sekaligus mengajarkan cara berpakaian modern, supaya apabila ada pakaian modern kedepannya penduduk setempat dapat mengenakan seperti yang biasanya dikenakan oleh orang banyak pada umumnya.

d.             Pelayanan Dengan Belajar Berkomunikasi Bahasa Daerah Setempat
Metzger, menyatakan bahwa, Kita sebagai para penginjil Kristen, berusaha untuk mengikuti budaya atau Bahasa setempat agar memudahkan kita dalam memberitakan Injil Kristus dengan mudah. Karena kita percaya bahwa, semua orang diciptakan oleh Allah dalam berbagai suku, budaya, Bahasa dan lain sebagainya. Maka kita sebagai pemberita Injil Kristus di suatu tempat harus bisa memahami dan menguasai Bahasa dan budaya mereka.[5]

Jadi, salah satu kendala yang dialami oleh peneliti dan tim misi PUFST adalah mengalami kesulitan untuk berkomunikasi dengan bahasa daerah setempat, maka mulai saat ini sudah belajar bahasa daerah setempat agar memudahkan untuk berkomunikasi dengan warga setempat yang sedang dilayani. Sekaligus akan mengajarkan bahasa Indonesia kepada penduduk setempat.

e.              Pelayanan Dengan Mengenal Dan Memahami Medan (Jarak)
Ellis, menyatakan bahwa “dalam suatu pelayanan tidak terlepas dari tempat, dan setiap tempat memiliki jarak yang berbeda-beda, mau mengunjungi tempat pelayanan seorang pelayan Tuhan harus mengetahui medan yang akan ditempuh, kalau ia belum mengenal medan harus cari tahu untuk mengetahuinya, harus minta peta dahulu kepada yang sudah mengetahui tempat sebelumnya”.[6]
Peneliti dan tim misi PUFST menyadari bahwa, medan di tempat penginjilan menjadi kendala, sebabnya mengajak penduduk setempat yang sudah mengenal jarak, serta memahami situasi dan kondisi supaya dapat mengunjungi kampung yang satu ke kampung lain, untuk memberitakan firman Tuhan.

f.               Pelayanan Dengan Mengajarkan Cara Membaca Menulis Dan menghitung
Purwantara, menjelaskan bahwa “ada tips untuk menghadapi orang-orang yang dilayani adalah: Pertama, hadapi dan ajarkan mereka untuk membaca dan menulis sesuai dengan kesiapan mereka. Kedua, pahami keadaan mereka dan cara pandang mereka terhadap cara memabaca, menulis dan menghitung. Ketiga, dorong mereka untuk memahami tujuan membaca, menulis dan menghitung”.[7]
Jadi, Peneliti dan Tim Misi PUFST, tidak hanya secara lisan berkata-kata tentang firman Tuhan kepada orang-orang yang ada di suku Ketengban, namun kedepannya akan mengumpulkan mereka untuk mengajarkan abjad, cara membaca, cara menulis dan cara menghitung, supaya dapat membaca Alkitab.

g.             Pelayanan Dengan Berdiskusi Firman Tuhan
Packer, menyatakan bahwa “pengomunikasian yang dilakukan oleh orang Kristen sebagai penyambung lidah Allah kepada orang berdosa. Diskusi firman Tuhan berarti mengahdirkan Kristus dalam kuasa Roh Kudus sedemikian rupa sehingga manusia akan datang dan percaya kepada Allah, menerima Dia sebagai Juruselamat, dan melayani Dia sebagai Raja di dalam persekutuan gereja-Nya”.[8]
Peneliti dan tim misi PUFST, telah dan akan terus untuk mengumpulkan, menggerahkan, mengarahkan, memobilisasi penduduk setempat untuk bertanya jawab firman Tuhan satu sama lain. Sesuatu yang mereka belum memahami akan diberikan jawaban oleh tim misi PUFST kepada penduduk setempat.

h.             Pelayanan Penginjilan Dengan Melibatkan Warga Setempat
Yuniarti, menjelaskan mengenai amanat agung Tuhan Yesus Kristus adalah “misi setiap usaha yang ditujukan dengan sasaran untuk menjangkau melampaui kebutuhan gereja dengan tujuan untuk melaksanakan amanat agung dengan menyatakan kabar baik dari Yesus Kristus, menjadikan murid, dengan mendidik mereka mejadi pemberita kabar baik”.[9]
Jadi, peneliti dan tim misi PUFST, telah dan akan terus untuk melibatkan warga setempat yang sudah percaya Tuhan, untuk bersama-sama pergi dan mengunjungi kampung yang satu kampung yang lain untuk mengabarkan injil Kristus. Karena mereka lebih memahami kondisi lapangan di suku Ketengban.

i.               Pelayanan Dengan Memberi Motivasi Iman Percaya Mereka
Abineno, menyatakan bahwa “Allah adalah Roh. Karena itu siapa pun yang menyembah-Nya, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran melalui iman kepada-Nya. Allah harus disembah melalui iman dalam roh dan kebenaran, memiliki dua dasar teologis: Pertama, karena Allah Bapa merindukan para penyembah demikian, dan kedua, karena Allah sendiri adalah Roh yang kita imani, dan bukan daging”.[10]
Peneliti dan tim misi PUFST, telah dan akan terus untuk mendatangi kepada penduduk setempat dan duduk bersama untuk memberikan motivasi dan arahan serta nasihat kepada mereka, supaya imannya tetap teguh di dalam Tuhan Yesus.

j.              Pelayanan Dengan Mengajarkan Garis Besar Alkitab Kejadian Sampai Wahyu Dengan Bahasa Setempat.
Robert, menyatakan bahwa “permasahan yang sering timbul dalam pelayanan penginjilan adalah kurangnya mengerti bahasa di suatu daerah tertentu. Seharusnya dalam penginjilan, harus memahami bahasa daerah setempat; mengadakan penginjilan dengan bahasa setempat. Hal ini saling berhubungan, dan keserasian hubungan keduanya akan menentukan makna segala kegiatan yang dilakukan”.[11]
Peneliti dan tim misi PUFST, akan melakukan pembuatan materi mengenai garis besar Alkitab dan pokok-pokok penting ke dalam bahasa daerah setempat untuk mengajarkan kepada orang-orang yang ada di suku Ketengban, supaya mereka dapat memahami pokok-pokok mendasar dalam isi Alkitab. Serta mengajarkan mereka dengan lisan atau menceritakan mengenai Alkitab secara utuh, dengan harapan warga setempat dapat menerima dengan baik.

k.             Pelayanan Dengan Penuh Bertanggungjawab
Kuyper, menyatakan bahwa “perkabaran Injil itu perlu dilaksanakan dengan penuh bertanggungjawab. Gereja dan orang-orang Kristen juga perlu mencari tahu sumber dan tujuan pekabaran Injil guna menghindari diri dari berbagai salah paham supaya pelayanannya yang harus bersifat bertanggungjawab. Harus digunakan dengan beberapa cara dan metode penginjilan, agar dapat bertangungjawab dalam pelayanan”.[12]
Dengan demikian maka, peneliti dan tim misi PUFST harus bertanggunjawab dalam hal memberitakan firman Tuhan, dengan cara mengunjungi kampung yang ke kampung yang lain, sesuai dengan visi dan misi atau kesepakatan dalam tim misi untuk melakukan pelayanan penginjilan atau pemberitaan Injil Kristus. Dengan dilakukannya pelayanan bertanggungjawab, maka firman Tuhan dapat tersampaikan dengan baik dan tepat pada tujuan atau sasaran yang ditujuh.



[1]David W. Ellis, Metode Penginjilan, (Jakarta: YKBK, 2011), 114-115.
[2]Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar, (Jakarta: Rajagrafindo Persada, 2012), 23.
[3]Soerjono Soekanto, Op. Cit., 219.
[4]Piotr Sztompka, Sosiologi Perubahan Sosial, (Jakarta: Prenadamedia Grup, 2004), 102.
[5]Will Metzger, Op. Cit., 319.
[6]D. W. Ellis, Op. Cit., 128-129.
[7]Iswara Rintis Purwantara, Prapenginjilan Menyingkirkan Kendala-kendala Intelektual dalam Penginjilan, (Yogyakarta: Andi Offset, 2012), 259.
[8]J. I. Packer, Op. Cit., 25.
[9]Novi Yuniarti, Sekilas tentang Misi, (http://misi.sabda.org/sekilas_tentang_misi, 23 Mei, 2018), 3.
[10]J.L.Ch. Abineno, Yesus Sang Mesias dan Sang Anak, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1999), 76.
[11]E. Coleman Robert, Rencana Agung Penginjilan, (Bandung: Yayasan Kalam Hidup, 1996), 12.
[12]Arie de Kuyper,  Missiologi, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2008), 9.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TEMA-TEMA DALAM KITAB PL

Metode Penjangkauan Jiwa

Metode Penginjilan Yang Relevan di Suku Ketengban, Papua