FOKUS PERMASALAHAN PENGINJILAN


Fokus Permasalahan Dalam Pelayanan Penginjilan di Suku Ketengban Papua.


Di bagian ini peneliti memaparkan mengenai masalah-masalah yang telah dijelaskan di bagian latar belakang, namun supaya lebih terperinci, terara, dan terfokus, maka peneliti akan menjelaskan di bawah ini, seperti halnya yang dinyatakan oleh Sugiyono, bahwa “untuk menemukan masalah dapat dilakukan dengan cara indentifikasi masalah, artinya masalahnya dipilah-pilih, supaya masalah tersebut dapat dipecahkan dengan baik dan benar agar masalah tersebut dapat diselesaikan dengan tuntas”.[1]
Berdasarkan latar belakang masalah penelitian tersebut di atas, maka yang menjadi fokus masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.             Tim misi PUFST tidak menetap untuk memberitakan firman Tuhan kepada orang-orang di suku Ketengban.
2.             Tim misi PUFST mengalami kendala biaya (tiket pesawat pulang pergi dari Sentani-Jayapura ke suku Ketengban dan dari suku Ketengban ke Sentani-Jayapura).
3.             Tim misi PUFST belum melakukan follow up bagi mereka yang telah mendengar dan menerima serta percaya kepada Tuhan Yesus Kristus selama ini.
4.             Orang-orang di suku Ketengban, tidak bisa menerima denga baik, firman Tuhan yang telah disampaikan oleh tim misi PUFST.
5.             Orang-orang di suku Ketengban, sulit untuk diajak mengambil keputusan meninggalkan penyembahan berhala.
6.             Orang-orang di suku Ketengban sebagian besar tidak bisa berbahasa Indonesia.
7.             Orang-orang di suku Ketengban sebagian besar masih buta huruf.
Penelitian dalam suatu masalah sangat penting untuk dilakukan pembatasan masalah, karena dalam penelitian suatu masalah bisa saja terlalu luas terhadap masalah yang sedang diteliti, dengan demikian maka, peneliti perlu untuk membatasi terhadap masalah yang sedang diteliti. Seperti halnya dipaparkan oleh: Harianto, bahwa “dalam mempertajam penelitian, peneliti kualitatif menetapkan pembatasan masalah penelitian”.[2] Senada juga yang dinyatakan oleh Siang, bahwa “kadang-kadang masalah yang ada terlalu luas untuk dibahas secara keseluruhan sehingga peneliti hanya membahas dan meneliti sebagian saja. Hal ini diperkenankan karena mengingat keterbatasan waktu, tenaga dan dana yang dimiliki oleh peneliti”.[3]


Maka, memutuskan masalah yang akan dibahas terkait dengan poin Satu, Dua, Tiga, Empat, Lima, Enam dan Tujuh atau seluruhnya akan dibahas dalam penelitian ini, yaitu:
1.             Tim misi PUFST tidak menetap untuk memberitakan firman Tuhan kepada orang-orang di suku Ketengban.
2.             Tim misi PUFST mengalami kendala biaya (pulang pergi dari Sentani-Jayapura ke suku Ketengban dan dari suku Ketengban kembali ke Sentani-Jayapura).
3.             Tim misi PUFST belum melakukan follow up bagi mereka yang telah mendengar dan menerima serta percaya kepada Tuhan Yesus Kristus selama ini.
4.             Orang-orang di suku Ketengban, tidak bisa menerima denga baik firman Tuhan yang telah disampaikan oleh tim misi PUFST.
5.             Orang-orang di suku Ketengban, sulit untuk diajak mengambil keputusan yaitu meninggalkan penyembahan berhala.
6.             Orang-orang di suku Ketengban sebagian besar tidak bisa berbahasa Indonesia.
7.             Orang-orang di suku Ketengban sebagian besar masih buta huruf.
Dikarenakan metode penginjilan yang dilakukan oleh tim misi PUFST, kurang optimal. Maka kerinduan peneliti untuk mengevaluasi secara teoretis, guna peningkatan penjangkauan jiwa-jiwa baru, dengan cara mengajarkan kualitas rohani orang-orang di suku Ketengban, Kabupaten Pegunungan Bintang, Provinsi Papua.
Adapun metode yang digunakan oleh tim misi PUFST untuk pelayanan penginjilan di suku Ketengban, sejak Tahun 2011 sampai dengan sekarang ini adalah sebagai berikut:
Pertama, belajar menyesuaikan diri dengan iklim di suku Ketengban, supaya terbiasa untuk pelayanan di daerah tersebut, baik dari dataran tinggi ke dataran rendah maupun dari daerah yang suhunya dingin ke daerah yang suhunya panas, supaya para pelayan Tuhan dapat memberitakan firman Tuhan dengan tanpa kangguan kesehatan oleh sakit penyakit.
Kedua, belajar bahasa daerah setempat, agar bisa berkomunikasi dengan masyarakat setempat menggunakan bahasa daerahnya, dan bisa digunakan untuk memberitakan firman Tuhan, kepada orang-orang yang ada di suku Ketengban, supaya mereka juga bisa mendapatkan kasih anugerah dari Tuhan Yesus untuk memperoleh hidup yang kekal.
Ketiga, mengajarkan warga setempat, baik orang tua maupun anak-anak untuk mengenal abjad, cara membaca, menulis dan menghitung. Agar masyarakat setempat bisa mengenal abjad dan membaca serta bisa menulis dan sekaligus bisa menghitung, dengan suatu kerinduan supaya mereka bisa membaca Alkitab.
Keempat, berusaha untuk mengenal dan memahami medan (jarak) bahkan situasi dan kondisi di suku Ketengban Papua. Supaya bisa memberitakan firman Tuhan yang adalah kabar tentang pengampunan dosa dan kabar tentang keselamatan dari Tuhan Yesus Kristus, dari daerah yang satu pindah ke daerah yang lain.
Berdasarkan batasan masalah di atas, maka pokok pembahasan masalah dalam penelitian ini adalah, peneliti akan melakukan evaluasi metode penginjilan tim misi PUFST secara teoretis, guna peningkatan penjangkauan jiwa-jiwa baru, serta kualitas kehidupan rohani bagi orang-orang yang ada di suku Ketengban, supaya mereka juga dapat diselamatkan oleh anugerah kasih karunia Allah.


[1]Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D, (Bandung: Alfabeta, 2012), 48.
[2]Harianto, Metodologi Kuantitatif dan Kualitatif Pengantar Penelitian Biblika Teologi dan Filsafat Agama, (Surabaya: STT-Bethany Nginden, 2013), 81.
[3]Jong Jek Siang, Giat Jitu Sukses Menyusun Tesis, (Yogyakarta: ANDI Offset, 2003), 51.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TEMA-TEMA DALAM KITAB PL

Metode Penjangkauan Jiwa

Metode Penginjilan Yang Relevan di Suku Ketengban, Papua