CONTOH DESKRIPSI ATAU TESIS DATA


Contoh DESKRIPSI[1] ATAU TESIS DATA

Di Bab empat ini, peneliti akan memaparkan mengenai data-data teori yang mendukung mengenai temuan teori yaitu: metode-metode yang efektif untuk menjangkau orang-orang di suku Ketengban, Kabupaten Pegunungan Bintang, Provinsi Papua, dengan tujuan firman Tuhan dapat tersampaikan dengan tepat.

1.             Pentingnya Penginjilan Sampai Ke Polosok Dunia
Tong, menjelaskan bahwa “Amanat Agung adalah sebuah konsep yang sangat penting dan diajarkan di dalam Alkitab. Penulis Injil sendiri mengindikasikan betapa pentingnya Amanat Agung. Terbukti semua penulis Injil mencantumkan Amanat Agung dalam tulisannya masing-masing, bahkan Lukas juga menuliskannya dalam kitab Kisah Para Rasul”.[2]

Parinussa menyatakan bahwa, “pengembangan pelayanan adalah harus dengan tepat guna. Dalam mengembangkan suatu strategi pelayanan bagi jemaat gereja seyogyannya mengembangkan suatu sistem pelayanan yang tepat guna berdasarkan tujuan pelayanan yang utama dengan memanfaatkan seluruh sumber daya yang ada secara maksimal agar dapat mencapai hasil yang optimal[3]”.

Jadi, dalam hal ini melaksanakan misi Allah merupakan tanggungjawab peneliti dan tim misi PUFST untuk pergi mengunjungi dari kampung yang satu ke kampung yang lain, mengumpulkan penduduk setempat di suatu tempat terbuka untuk menceritakan kemahakuasaan Allah. Karya penciptaan-Nya, keselamatan-Nya dan tentang kedatangan-Nya serta Yerusalem baru yang akan datang.

2.             Penjangkauan Jiwa Dalam Penginjilan
Bonnke, menjaskan bahwa “tujuan seorang penginjil melakukan penginjilan adalah untuk penjangkauan jiwa-jiwa baru dengan cara memperdengarkan Injil Kristus supaya orang-orang datang kepada Yesus secara pribadi dan dengan demikian mereka diperdamaikan dengan Allah”.[4]

Jadi, Penjangkauan Jiwa dalam penginjilan adalah peneliti dan tim misi PUFST, akan mendatangi dan mendekati penduduk setempat, dari kampung yang satu ke kampung yang lain. Untuk mengumpulkan mereka di suatu tempat yang strategi, baik sedikit ataupun banyak orang yang ada di suku Ketengban, supaya dapat menceritakan dan memperdengarkan kabar tentang pengampunan dosa dan kabar tentang keselamatan yang berasal dari Tuhan Yesus Kristus, agar setiap orang yang ada di sana dapat mendengarkannya dan mengakui serta percaya bahkan bersedia untuk datang kepada Tuhan Yesus Kristus, dengan cara meninggalkan penyembahan berhala dan datang kepada Allah yang hidup. Supaya mereka mendapatkan pengampunan dari Tuhan Yesus Kristus.

3.             Kualitas Rohani Dalam Penginjilan

a.              Mengenal Allah
Berkhof, menjelaskan bahwa “teologi reformed percaya bahwa Tuhan dapat dikenal, akan tetapi tidak mungkin manusia dapat memperoleh pengenalan yang lengkap menyeluruh dan sempurna tentang Dia, diharapkan manusia mengenal Tuhan sesuai dengan pedoman dari Alkitab”.[5]

Towns, menyatakan bahwa,

El Shaddai, Allah Yang Maha Kuasa, adalah sebuah nama yang harus dikenal dan dipercayai setiap orang percaya. Pada waktu kita menghadapi masalah-masalah atau bahaya-bahaya, kita dapat berseru kepada yang Mahakuasa untuk memohon pertolongan-Nya. Ia tidak selalu menyingkirkan masalah-masalah kita atau menyisihkan kita dari badai-badai kehidupan, tetapi ia akan memberi kita kekuatan untuk menghadapinya.[6]

Jadi, untuk orang-orang ada di suku Ketengban, peneliti dan tim misi PUFST akan mendatangi mereka dan mengumpulkan mereka di suatu tempat yang dinilai layak dan strategi untuk menceritakan berbagai sifat-sifat Allah, agar dapat mengenal Allah yang benar, serta mengetahui sifat-sifat-Nya. Berikut ini sifat-sifat Allah yang akan diajarkan kepada penduduk setempat adalah:
Pertama, mengenal Allah itu mahahadir. Kedua, mengenal Allah itu mahatahu. Ketiga, mengenal Allah itu mahakuasa. Keempat, mengenal Allah itu mahatinggi. Kelima, mengenal Allah itu kekal. Keenam, mengenal Allah tidak berubah. Ketuju, mengenal Allah itu sempurna dan kudus. Kedelapan, mengenal Allah itu baik. Kesembilan, mengenal Allah itu kasih. Kesepuluh, mengenal Allah itu penyayang dan pengasih. Kesebelas, mengenal Allah itu berbelaskasihan. Kedua belas, mengenal Allah itu sabar dan lamban marah. Ketiga bela, mengenal Allah adalah kebenaran. Keempat belas, mengenal Allah itu setia. Kelima belas, mengenal Allah itu adil.

b.             Mengenal Yesus
Parel, menyatakan bahwa “Allah memberikan perintah untuk datang kepada Yesus berdoa kepada-Nya bukan berarti Ia tidak mengetahui kebutuhan yang sedang diperlukan. Ia memberikan perintah demi umat-Nya, yaitu hubungan dengan Dia dan hidup menurut kehendak-Nya. Seorang yang mengaku umat Tuhan berarti hidup dibawah pimpinan dan pengaruh kuat kuasa Roh Kudus yang membawanya melakukan kehendak Allah, yaitu berdoa. 1 Tesalonika 5:17, tetaplah berdoa”.[7]
Dengan demikian, peneliti dan tim misi PUFST akan mendatangi kepada orang-orang di suku Ketengban, baik itu di setiap kampung-kampung yang besar maupun dalam kumpulan kecil untuk memberitahukan dan mengajarkan bahwa, Tuhan Yesus Kristus adalah Juruselamat yang harus diterima dan mengakui serta percaya, agar mereka dapat mengenal-Nya. Sebab keselamatan adalah segenap karya Allah dengan membawa manusia keluar dari hukuman menuju pembenaran, dari kematian ke kehidupan kekal, dan dari musuh menjadi anak.

c.              Mengenal Roh Kudus
Brill, menyatakan bahwa “setiap orang percaya perlu diketahui bahwa, ketika manusia jatuh ke dalam dosa, rohnya terpisah dari Allah dan mati (secara rohani). Roh yang mati itu harus dibangkitkan atau dihidupkan melalui kelahiran baru (dilahirkan kembali dalam roh). Dilahirkan kembali berarti menerima kodrat Ilahi oleh pekerjaan Roh Kudus dengan perantara Firman Allah”.[8]
Jadi, peneliti dan tim misi PUFST akan mengunjungi di setiap kampung dan mengumpulkan penduduk setempat untuk memberikan pemahaman dan mengajarkan mengenai Roh Kudus, supaya setiap orang percaya harus memiliki iman kepada Allah di dalam Tuhan Yesus Kristus, bahwa Roh Kudus adalah Pribadi yang memiliki akal budi, perasaan dan kehendak. Roh Kudus adalah Allah, sebab Dia memiliki sifat-sifat Allah.


[1]Deskripsi adalah: pemaparan atau penggambaran dengan kata-kata secara jelas dan terperinci; uraian.
[2]Stephen Tong, Teologi Penginjilan, (Surabaya: Momentum, 2004), 62.
[3]Awiyono, dkk., Pengantin Kristus Jurnal Bilika-Komprehensip-Profesional, (Surabaya: Devisi Literatur STTIA, 2016), 51.
[4]Reinhard Bonnke, Loc. Cit., 196.
[5]Louis Berkhof, Teologi Sistematika 1, (Lembaga Reformed Injili Indonesia, 1993), 29.
[6]Elmer L. Towns, Nama-Nama Allah, (Yogyakarta: Yayasan ANDI, 1981), 52-53.
[7]Parel T.J, Karya ilmiah : Teologi Doa dalam Pengajaran Paulus, (Makassar: STTJ, 2006), 48.
[8]J. Wesley Brill, Dasar Yang Teguh, (Bandung: Kalam Hidup, 2004), 219.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TEMA-TEMA DALAM KITAB PL

Metode Penjangkauan Jiwa

Metode Penginjilan Yang Relevan di Suku Ketengban, Papua